Aksi Massa

Menghadirkan Keabsurdan
30 October 2015
Masaru dan Bahasa Inggris
17 December 2015

Aksi Massa

Suara mahasiswa menggema dan bergemuruh, di sekitar Istana Negara. Ratusan massa lengkap dengan jaket almamater mendengarkan dengan seksama komando dari mobil sound.

“Hidup Mahasiswa!

Hidup Rakyat Indonesia!”

Reyhan berdiri gagah di panggung di atas mobil sound lengkap dengan jaket kuningnya yang penuh emblem dan digulung se-siku. Dia membakar semangat massa aksi dengan sangat menggebu-gebu. Dia memang jenderal lapangan, yang dengan kharismanya bisa menyihir pengikutnya untuk perang dan berani melakukan apa saja.

Barisan massa aksi terlihat rapih. Tidak meluber ke jalan dan tidak bikin macet. Ada orang yang ditugaskan untuk mengatur lalu lintas sambil berkoordinasi dengan Polisi. Ada yang ditugasi sebagai pers, juru bicara pada setiap media yang datang meliput. Beberapa orang pria terkuat menjadi ‘banker’ atau biasa disebut garda terdepan yang siap maju, berlari, mendobrak barisan polisi. Tim Medis mahasiswa pun berjaga dengan rapi di sekitar massa aksi lengkap dengan peralatan medisnya. Reyhan, memang ahli dalam manajemen aksi. Dia dijuluki Singa Podium dan Jenderal Lapangan. Tak tanggung-tanggung, hari ini dia membawa pasukan lebih dari 10 bus, untuk meminta Pemerintah memperbaiki regulasi tentang Rokok yang selama ini masih ‘awut-awutan’.

 “Rekan-rekan sekalian, hari ini kita kembali turun ke jalan, dengan jaket kuning perjuangan! Ibarat nyala lampu lalu lintas, kuning adalah hati-hati atau peringatan. Maka sebuah keniscayaan, ketika jaket kuning turun ke jalan, ada yang harus diingatkan! Hati-hati! Karena jaket ini, tidak akan lepas, sebelum perjuangan ini selesai! Hidup Mahasiswa!”

Para massa aksi mengikuti komando dengan sangat semangat. Kadang mereka bernyanyi bersama, loncat-loncat, dan berteriak sekencang-kencangnya. Walau terik matahari menyengat, mereka tetap bertahan memberikan energi terbaik mereka. Ketulusan terlihat jelas di wajah-wajah massa aksi. Inilah perbedaan, aksi bayaran dan aksi ketulusan, bisa dilihat dari kualitas massa aksinya.

Tim Pers mahasiswa, sibuk meladeni wartawan yang meliput aksi kali ini, ada stasiun TV juga yang meliput secara live. Di sisi yang lain, beberapa mahasiswa berkumpul di sekitar lampu merah depan istana. Mereka menukar rokok yang dimiliki pengendara, dengan susu ataupun cokelat, sambil menjelaskan apa yang mereka perjuangkan hari ini. Tentunya, ada pengendara yang pro, maupun kontra sinis.

Malam sebelumnya, Reyhan menyiapkan jaket almamater yang penuh emblem dan sedikit lusuh. Sepertinya, jaket itu sering sekali dia pakai turun ke jalan. Baunya pun, bau keringat tercampur bau jalanan.

“Rey, ngapain sih lo aksi-aksi segala, nggak ngerti gue sama lo, rela bolos cuma buat aksi nggak penting gitu.” Ryo mengomentari Reyhan, dengan sinis sambil asyik menonton TV di ruang tengah. Reyhan hanya tersenyum.

“……”

“Woy, jawab dong!”

“Ryo, lo pernah makan di restoran nggak?”

“Pernah lah, mau nraktir?”

“Kalo gue traktir, mau pilih rumah makan apa?, pilih yang paling mahal dan paling enak deh”

“Gila, serius?” Alhamdulillah Ya Allah, engkau menurunkan rejeki lewat Reyhan malem ini, kata Ryo dalam hati.

“Gue mau ke Sushi Tei bro, ganteng banget deh lo, hari ini”. Ryo tertawa terkekeh.

“Oke. Semisalnya kita makan di sana berdua, terus kita pesen banyak makanan. Eh waktu makanannya keluar, ternyata nggak enak, ada yang keasinan, ada yang kemanisan, kira-kira apa yang lo lakuin?”

“Ya protes lah bro, kita udah bayar mahal. Gila aja kalo nggak enak.”

“Oke, gimana cara lo protes?”

“Gue bilang ke pelayannya, kalo makanan ini keasinan sama kemanisan. Gue minta ganti.”

“Lo tau nggak cara bikinnya gimana?”

“Enggak”

“Cuma lo tetep protes?”

“Iya, gue kan dah bayar”

“Yap, sama bro. Demonstrasi mahasiswa, sama ibarat kita protes ke restoran. Ibaratin, Pemerintah adalah restoran, mereka sudah bikin kebijakan, ternyata kebijakannya malah bikin rakyat susah, banyak yang nggak sesuai harapan rakyat. Padahal rakyat udah bayar pajak. Lewat apapun yang mereka beli dan mereka pakai. Semua barang di tempat tinggal kita sekarang berpajak bos. Kalo ada kebijakan yang nggak sesuai, tugas kita adalah mengingatkan, ngasih peringatan, dan juga masukan ke pemerintah. Tentunya masukan kita berdasar, nggak asal ‘njeplak’. Itu tanda kalo kita sayang sama Negara ini, kita pengen Negeri kita jadi lebih baik. Sama ketika lo protes di restoran, lo nggak tau cara masak sushi yang enak itu gimana, tapi lo tau rasa yang enak itu gimana. Mahasiswa ngingetin pemerintah, supaya mereka mengkaji lagi kebijakan mereka yang kita protes. Mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat.”

Suasana hening. Ryo terdiam, merenungi apa yang dikatakan sahabat karibnya itu.

“Satu lagi Ryo, sebelum besok gue aksi, gue dan tim sudah bikin kajian yang lengkap, data-datanya valid, gue juga masukin pendapat tim-tim ahli dari para pengamat kebijakan publik sampai professor di kampus yang gue temuin langsung. Jadi, kita nggak asal demo, demo kita cerdas.”

Ryo masih diam.

“Aksi Massa adalah salah satu hal yang bisa kita lakukan untuk mengontrol kebijakan pemerintah. Aksi merupakan salah satu aktualisasi dari aspek intelektual dan moral mahasiswa. Selama kita punya hati nurani, tentu kita tidak akan diam melihat kejahatan di sekitar kita. Sesungguhnya, setiap manusia dilahirkan jadi orang baik, jadi seorang penolong. Sangatlah angkuh, jika kita apatis terhadap segala permasalahan yang ada. Aksi memang tidak menjanjikan perubahan, tapi tanpa aksi tidak akan pernah ada perubahan.”

Reyhan merebahkan dirinya di kasur busanya yang sudah tidak lagi empuk. Matanya sudah berat. Dia sudah hampir terlelap. Tiba-tiba, ada suara dari ruang TV.

“Rey, besok gue bantuin lo ikut Aksi, pengen teriak-teriak juga gue!!!” kata Ryo lantang.

Reyhan tersenyum.

#CuplikanFiksi #Dremon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *