Menikah Tanpa Resah! Semoga Kamu Makin Siap

Cara Merekrut Karyawan (Tim) Terbaik : Real Experience
3 March 2017
3 Kriteria Partner Bisnis Idaman untuk Membuat Bisnismu Melejit!
5 March 2017

Menikah Tanpa Resah! Semoga Kamu Makin Siap

Fitra & Acha

SEMOGA KAMU MAKIN SIAP!

Semoga setelah membaca ini kamu semakin siap menikah tanpa resah ya.

Saya baru saja menikah  2 bulan lalu, tepatnya 30 Desember 2016. Tanggal pernikahan baru ditetapkan di bulan Oktober akhir, artinya hanya 2 bulan sebelum hari pelaksanaan. Calon saya yang sekarang sudah jadi istri, waktu itu masih di Belanda, ceritanya sedang kuliah S2. Penetapan waktu nikah pun, didiskusikan antara saya dan pihak keluarga perempuan saja. Nggak ada proses lamaran, nggak ada proses tukar cincin. Tiba-tiba dimudahkan, mertua saya berpikir, sepertinya lebih baik dipercepat, kenapa harus ditunda, jika calonnya sudah baik, dan tujuannya juga baik, segera halal, segera menyempurnakan agama, dan bersama-sama berjuang untuk berbuat kebaikan sebanyak mungkin di muka bumi adalah sesuatu yang wajib untuk direstui. Akhirnya Deal, saya direstui untuk menikahi calon istri saya.

Penentuan tanggal pun aneh, jadi menyesuaikan waktu kepulangan calon istri saya ke indonesia, yaitu 22 Desember 2016 – 5 Januari 2017. Dari tanggal itu, lalu kami survey gedung, tanggal berapa yang kosong untuk digunakan sebagai tempat resepsi. Kamu tahu hasilnya? Yap, benar sekali, semua gedung untuk acara di hari sabtu dan minggu sudah penuh sampai 1 tahun ke depan. Poinnya, nikah di gedung emang nggak bisa dadakan kayak di rumah sendiri, harus booking jauh-jauh hari. Jangan lupa ya, sebelum nentuin lokasi resepsi, mastiin dulu restu orang tua dan restu calon mertua, jangan sampai ketinggalan ya.

Sempat ada wacana untuk mengundur saja waktu pernikahan, karena gedung nggak ada yang cocok. Saya sudah mengusulkan, bagaimana kalau di rumah saja, acaranya sederhana saja, yang penting keluarga berkumpul, akad nikah, lalu yes saya halal deh sama calon istri. Ternyata, mertua saya kurang setuju, karena kalau di rumah jadi ribet, ada beberapa alasannya :

  1. Ganggu Jalan, karena tenda nikahan pasti harus nutup jalan depan rumah.
  2. Ganggu tetangga, karena pasti ada acara kumpul-kumpul tetangga se-RT, putar musik-musik yang kerasnya minta ampun, bikin tetangga yang punya bayi jadi melawati malam yang panjang.
  3. Repotnya jadi berhari-hari, mulai dari minimal 2 hari sebelum nikahan, harus mulai masak-masak, siapin tempat, sampai beberapa hari setelah nikahan, biasanya masih banyak tamu yang datang.

Alasannya bagi saya masuk akal, kami berunding lagi. Akhirnya diputuskan, gimana kalau hari jumat aja, nggak harus hari libur, hari kerja pun nggak apa-apa. Kemudahan pun datang, di hari Jumat, 30 Desember 2016, gedung resepsi di dekat rumah mertua ternyata masih kosong, fiks, tanggal dan tempat pun ditetapkan.

Apa pesannya? Setiap niat baik pasti ada kemudahan jika memang ingin disegerakan, jangan khawatir nggak dapet gedung, coba cari terus, atau coba ganti tanggalnya, insyaAllah selalu ada jalan keluar. Calon mertua pasti akan memudahkan niat baik calon menantu yang memang terlihat tulus dan siap bertanggung jawab. Restu itu nomer satu ya, jadi berjuanglah untuk mendapatkan restu. 

Nikah butuh biaya Besar?

Yes, ini hal yang membuat saya takut. Bayangin aja, calon istri lagi kuliah di luar negeri, artinya seluruh pernak pernik persiapan nikah harus saya dan calon mertua yang urus, termasuk nentuin wedding organizer, bayar ini itu, siapin berkas ke KUA, pilih dekorasi, dan lain-lain yang ribet banget itu, harus diselesaikan dalam waktu maksimal 2 minggu setelah tanggal ditetapkan. Nah, disini gunanya skill negosiasi, mendelegasikan tugas dan berbagi tanggung jawab dengan calon mertua.

Terbuka dan apa adanya adalah poin penting. Jangan melebih-lebihkan diri di depan mertua, apalagi menebar janji yang belum pasti bisa dipenuhi.

Ceritakan hal-hal yang bisa mengganggu waktumu untuk mempersiapkan pernikahan, beri jaminan komitmen hal-hal apa yang siap kamu urusi sampai selesai. Jangan pernah memberi harapan palsu.

Mertua itu suka dengan calon menantu yang siap bekerja keras untuk keluarga, tidak penting dia sudah bekerja mapan atau belum, yang penting dia siap komitmen untuk berusaha secepat mungkin mapan dengan perencanaan yang jelas.

Saat membahas biaya resepsi dan pernikahan, saya jujur ke calon mertua dan menjelaskan ekspektasi dan kemampuan saya. Saya kuatnya segini untuk saat ini, insyaAllah akan terus berjuang untuk membantu lagi. Ekspektasi saya pun saya sesuaikan dengan kemampuan saya, jadi seimbang. Saya jelaskan, apa hal-hal yang akan saya siapkan untuk masa depan calon istrinya saya.

Resepsi itu cuma masalah seberapa banyak tamu yang mau diundang, semakin banyak ya semakin mahal. Jadi, ayo berani negosiasikan dengan calon mertua, berapa kekuatan kamu sekarang. Jangan takut.

Sahabat sekalian, saat saya menikah kemarin, saya sedang dalam kondisi gonjang ganjing khususnya dalam bisnis. Sudah 3 bulan, target penerimaan perusahaan nggak tercapai, sementara pengeluaran tak bisa dibendung, saya memiliki 20-an karyawan. Uang beasiswa nggak cair-cair. Mau minta bantuan keluarga, rasanya nggak enak banget, pengeluaran keluarga juga baru besar-besarnya karena kakak baru menikah di bulan Oktober lalu, hanya 3 bulan sebelum saya nikah. Sementara, ada biaya pokok yang harus disiapkan untuk nikah, diantaranya yaitu :

  1. Beli Mahar
  2. Biaya Resepsi (Termasuk Baju Pengantin, Catering, Sewa Tempat, dan macam-macamnya.
  3. Kehidupan Pasca Nikah

Apa yang saya lakukan? Cuma satu, berharap ada keajaiban dari Sang Pemberi Rejeki. Ibadah saya genjot, berusaha juga saya maksimalkan. Dari 3 poin tersebut, yang merupakan tanggung jawab laki-laki adalah poin 1 dan 3. Poin 2 adalah tanggung jawab kedua belah pihak, bukan hanya tanggung jawab laki-laki saja, jadi bisa dimusyawarahkan. Sementara nomer 1 dan 3, harga mati adalah tanggung jawab laki-laki. Hasilnya apa, alhamdulillah, di waktu yang tepat Allah menurunkan rejekinya untuk saya, biaya resepsi pun tercukupi, tepat di hari H waktu pelunasan, yaitu 10 hari sebelum hari pernikahan saya, tiba-tiba rekening saya ada isinya. Teman yang punya hutang tiba-tiba ngabarin kalau baru saja transfer. Uang beasiswa turun setengahnya. Orang tua kabarin kalau mau ikut iuran bantu-bantu dikit di resepsi, dan banyak sumber-sumber rejeki lain yang datang tanpa disangka-sangka dan tanpa dipaksa-paksa. Allah memang Maha Baik. Super haru, saya langsung sujud syukur.

Masalah yang banyak terjadi, kenapa orang nggak jadi-jadi nikah karena terlalu lama mikirin biaya untuk Resepsi, padahal bukan itu intinya. Resepsi itu bisa dimusyarahkan. Ingat, bisa dimusyawarahkan yaa. Sekarang banyak banget, gedung atau hotel yang menyediakan resepsi paket hemat, harga 50 juta sudah paket lengkap, tentu dengan jumlah tamu yang terbatas, nggak lebih dari 500 orang pastinya.

So, jangan jadikan biaya resepsi jadi sumber stressmu yaaa. 

Belajarlah dari Cerita Ini

Tepat ketika saya mengumumkan bahwa tanggal pernikahan saya sudah fiks ke teman-teman terdekat saya, ada seorang teman wanita saya yang batal menikah. Dia seorang wanita yang baik, berpendidikan, dan sudah menjalani proses ta’aruf hingga lamaran. Calonnya pun, laki-laki yang baik, lulusan luar negeri, memiliki pemahaman agama yang baik. Kedua orang tua sudah setuju. Tapi, ternyata dari pihak keluarga besar laki-laki masih memiliki tingkat ke-suku-an yang tinggi, sehingga rencana pernikahan mereka berdua akhirnya tidak disetujui oleh keluarga besar pihak laki-laki. Calon Laki-laki pun berusaha melakukan negosiasi ke keluarga besar, memberikan pemahaman dan alasan kenapa akhirnya dia memilih wanita ini walaupun berbeda suku, tapi ternyata tidak membuahkan hasil. Sampai akhirnya di titik laki-laki ini menyerah, dan rencana pernikahan mereka dibatalkan oleh calon pengantin laki-laki. Calon pengantin laki-laki merasa bahwa sudah mengusahakan dengan maksimal, namun ternyata tetap saja tidak diberikan jalan. Setelah resmi batal, 1 bulan kemudian calon pengantin laki-laki menikah dengan wanita pilihan dari keluarganya. Dia di jodohkan. Kira-kira bagaimana perasaan calon pengantin wanita yang tidak jadi menikah tadi? Siapa yang jadi korban?

Ssst…. jangan komentar dulu, simak cerita kedua.

Alhamdulillah, tanggal pernikahan sudah ditetapkan. Calon pengantin laki-laki sujud syukur, usaha dan doanya selama ini akhirnya di jawab dan diberi kemudahan oleh Allah. Dia mengambil cuti 3 minggu sebelum hari H pernikahan untuk pulang ke kampung halamannya yang sekaligus menjadi tempat dilaksanakannya pernikahan. Satu minggu sebelum hari H pernikahannya, saya mendapat kabar bahwa pernikahannya batal. Catering sudah di pesan, tempat sudah disiapkan, tinggal jalan aja, semuanya sudah beres. Kira-kira apa sebab batalnya? Karena ada syarat-syarat baru yang ditambahkan oleh pihak keluarga wanita yang secara logika tidak bisa dipenuhi oleh pihak laki-laki. Sehingga keluarga pihak laki-laki tersinggung karena diberitahukan secara mendadak. Sedangkan pihak perempuan tidak mau memberikan toleransi dan tidak mau diajak bernegosiasi. Pasti anda bertanya, memang mungkin seperti itu? Ya, itu yang dialami oleh teman saya.

                  Simak cerita yang ketiga…

Setiap orang baik punya masa lalu, setiap orang jahat punya masa depan. Masa lalu kadang perlu diceritakan, jika itu memang berpengaruh pada masa depan. Saya mendengar cerita dari teman saya, bahwa rekannya ada yang batal menikah, hanya 3 hari sebelum hari H, setelah calon laki-lakinya ketahuan selingkuh, dan melakukan pesta lajang bersama wanita-wanita yang tidak benar.

                  Sudah siap dengan  cerita yang keempat?

Kisah dari salah seorang teman dekat saya, beliau adalah seorang pengusaha sukses, masih muda, baru saja menikah. Acaranya pun dirayakan secara besar-besaran, bagi saya itu mewah sekali. Tiga bulan setelah acara pernikahan itu, saya mendapat kabar bahwa dia sudah bercerai dengan istrinya. Apa sebabnya? Karena ego, perbedaan pandangan, sikap dan sifat. Pasti anda bertanya, kok bisa? Sama, saya pun bertanya hal yang sama, kok bisa? Tapi, begitulah faktanya. Saya pun tidak enak hati, untuk menanyakan lebih lanjut sebab utamanya.

                  Mari sekali lagi, belajar dari cerita kelima ini.

Pernah mendengar kisah, pasangan yang sudah pacaran lebih dari 5 tahun, bahkan lebih dari 7 tahun, akhirnya batal menikah? Ya, saya menjadi saksi hidup kisah ini, terjadi pada teman SMA saya. Dua orang ini akhirnya tidak jadi menikah, mereka putus di tahun ke-7 mereka pacaran. Anehnya, tidak lama setelah mereka putus, kedua orang ini menikah dengan pasangannya masing-masing. Bertahun-tahun dihabiskan untuk menjaga pasangan orang ya.

                  Teman sehat sekalian, kisah-kisah di atas adalah bukti, bahwa jodoh itu sudah pasti adanya. Jika bukan jodoh, maka akan dipisahkan, baik dalam waktu cepat atau lambat. Banyak tanda-tanda yang Allah hadirkan kepada kita.

Jangan khawatir, jika kisah cintamu tidak berujung ke pernikahan itu artinya Allah sedang menjagamu agar kamu tak terlalu lama menghabiskan waktu dengan orang yang bukan jodohmu.

Jika kisah cintamu, tak kunjung mendapat kemudahan padahal kamu sudah berusaha maksimal, berarti memang dia bukan jodoh kamu. Jika kisah cintamu, berujung ke pelaminan dan seluruh prosesnya diberi kemudahan maka itu pertanda bahwa mungkin kamu sudah menemukan jodoh yang tepat, dan bersiaplah untuk bertahan dan melewati semua ujian pasca pernikahan, selamat kamu naik kelas.

Jodoh ini sudah tertulis. Kamu tak usah khawatir, cepat atau lambat pasti akan segera dipertemukan, tentunya diiringi dengan seberapa siap kamu. Siap ini, bukan diukur dari materi, tapi diukur dari mental. Diukur dari tanggung jawab, kedewasaan, keyakinan, pola pikir. Jadi, segera siapkan semua bekalnya, baca banyak literasi baik buku, artikel, atau sumber-sumber online yang bisa menguatkan bekalmu untuk menikah. Jangan tunggu-tunggu nanti. 

Pacar Nggak Mau Bahas tentang Nikah

Punya pacar tapi nggak mau bahas tentang Nikah? Punya pacar tapi nggak pernah diberi kepastian kapan mau dinikahi? Udah putusin aja. Gini, pacaran itu mirip seperti membeli buah mangga. Dipegang-pegang, diraba-raba, dicium-cium, kalau udah lembek, bisa ditinggal dan nggak jadi dibeli. Sakitnya dimana? Sakitnya tuh disini.

Kira-kira setuju nggak dengan analogi diatas? Mungkin ada yang keberatan, tapi begitulah adanya. Pacaran yang awalanya cuma ingin mengenal pasangan, tapi lama-lama mulai berani, awalnya pegangan tangan, cium pipi, kening, bibir, dan ah sudahlah. Kira-kira siapa yang paling dirugikan? Yes, tentunya pihak perempuan.

So, buat yang sekarang punya pacar, jangan diputusin, tapi yuk diseriusin diobrolin kapan mau nikah, gimana rencananya, yuk diperjuangin bareng-bareng. Jangan sampai lupa dibahas. Biasanya, pihak cowok yang suka lola atau suka menghindar kalau ditanya soal nikah. Jawabannya normatif, contohnya nunggu aku mapan dulu ya, jangan dibahas sekarang deh, kita nikmatin hidup aja dulu. Kamu doain aku ya supaya aku segera dimudahkan dan dilancarkan untuk nikahin kamu. Ah, Gombal!!!

Nikah itu bukan tentang mapan atau belum mapan, tapi tentang mau atau tidak mau.

Ingat, Allah akan memampukan orang yang mau, bukan me’mau’kan orang yang mampu. Mau dulu, baru nanti mampu. Jangan mampu dulu baru mau. Kasih kepastian, kapan mau datang ke orang tua untuk ngelamar, minta bukti nyata, jangan mau di PHP in.

Hal yang paling sering di galau in sebelum nikah

  1. Mikirin finansial (ya rumah, mobil, susu anak, dan lain-lain)

Selamat, ketika kamu berpikir hal tersebut artinya kamu sudah selangkah lebih maju, yaitu memikirkan pasca nikah. Jangan lupa buat perencanaan yang matang. Berapa tahun lagi kamu punya rumah, mobil dan seterusnya. Berapa target penghasilan kamu untuk bisa memenuhi itu, lalu cari pekerjaan yang cocok. Mikirin finansial untuk rumah tangga itu penting, tapi jangan masang standar ketinggian. Pasang standar sederhana dulu, yaitu paling tidak sudah punya pendapatan yang cukup untuk hidup sederhana bareng istri. Lagian, berjuang bareng istri dari 0 akan lebih indah lho.

  1. Mikirin uang buat nikah (biaya resepsi, mahar, dan lain-lain)

Percaya deh, Allah Maha Kaya. Sebuah niat baik pasti akan mendapatkan jalan terbaik. Yang penting niatnya dulu, lalu usahanya, jangan lupa terus berdoa, tunggu aja, insyaAllah rejeki akan turun di waktu yang tepat.

Nabi SAW bersabda,”Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah, dan tidaklah seseorang memperberat urusan agama, kecuali dia akan dikalahkan oleh agama.” (HR Bukhari, no. 38).

Allah SWT berfirman (artinya) : “Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (QS An-Nuur : 32).

Coba buat pesta yang sesuai dengan kantong, jangan kantong yang disesuaikan dengan pesta.

  1. Mikirin saya sudah siap mental belum ya

Semua berawal dari niat, yap, yang penting itu niatnya. Kalau udah niat, banyak belajar aja, baca buku, diskusi sama orang tua, atau orang-orang yang disegani soal pernikahan. Pasti kesiapan mentalnya terbentuk. Ingat prinsip ini, bisa karena biasa. Mampu karena mau. Mental menjalani rumah tangga akan terbentuk dengan sendirinya seiring ilmu yang kita pelajari dan seiring bertambahnya usia pernikahan kita. Belajar teorinya dan segera nyebur. Jangan kelamaan belajar, nanti lupa.

  1. Deg-degan nemuin keluarganya (bakal diterima nggak ya)

Menikah itu bukan tentang menyatukan dua orang, tapi tentang menyatukan dua keluarga. Percaya Diri aja! Coba cari tahu dulu tentang keluarganya, dan berikan kesan pertama yang baik. Kesan pertama akan menentukan respon lho. Jadilah calon suami atau istri yang baik.

  1. Benar nggak ya, dia jodoh saya?

Tanda yang paling terlihat dan terasa bahwa dia jodoh kamu adalah kamu merasa ingin segera halal dengan dia, yakin dan mantab. Walaupun banyak godaan yang datang, tapi tidak membuat kamu goyah. Semangat dan gairah kamu untuk memperjuangkan dia tak pernah padam.  Biasanya, dalam setiap prosesnya akan dimudahkan.

Kegalauan-kegalauan sebelum nikah itu selalu ada jawabannya. Selalu ada jalannya. Kuncinya, buat semua menjadi sederhana. Jangan dibuat rumit. Nikmati proses perjuangannya. Yakin pasti bisa! Semoga kamu segera menikah ya!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *